Praktek Senioritas Terselubung Masih Ada di Sekolah Top

Admin/ Maret 17, 2026/ BERITA, Pendidikan

Meskipun berbagai kebijakan anti-perundungan telah diterapkan secara luas, namun kenyataan pahit mengenai praktek senioritas masih sering ditemukan di balik tembok sekolah-sekolah unggulan. Budaya yang diwariskan secara turun-temurun ini seringkali dikemas dalam bentuk “pendisiplinan” atau “pembentukan karakter”, padahal esensinya adalah intimidasi dan dominasi kekuasaan oleh siswa kelas atas terhadap adik tingkat mereka. Hal ini menciptakan atmosfer belajar yang penuh tekanan dan ketakutan, yang sangat bertolak belakang dengan visi sekolah sebagai ruang aman bagi perkembangan intelektual dan emosional siswa.

Bentuk dari praktek senioritas ini sangat beragam, mulai dari kewajiban mematuhi aturan tidak tertulis yang konyol hingga tekanan psikologis dalam kegiatan ekstrakurikuler. Seringkali, guru atau pihak manajemen sekolah tidak mengetahui hal ini karena dilakukan secara sembunyi-sembunyi di luar jam pelajaran atau di tempat-tempat yang tidak terpantau kamera pengawas. Masalahnya, banyak siswa korban senioritas yang memilih diam karena takut akan dikucilkan oleh lingkaran pergaulan mereka atau bahkan mendapatkan perlakuan yang lebih buruk jika melapor.

Jika dibiarkan terus berlanjut, praktek senioritas akan melahirkan siklus kekerasan yang tidak pernah putus. Siswa yang saat ini menjadi korban cenderung akan melakukan hal yang sama saat mereka naik ke kelas yang lebih tinggi sebagai bentuk “balas dendam” atau sekadar melanjutkan tradisi yang salah arah. Dampak psikologisnya sangat nyata, mulai dari menurunnya motivasi belajar hingga gangguan kecemasan yang serius pada siswa baru. Sekolah seharusnya fokus pada kolaborasi antar angkatan untuk saling mendukung prestasi, bukan membangun hierarki semu yang merusak mentalitas kepemimpinan siswa.

Pihak sekolah di lingkungan sekolah top harus mengambil langkah tegas untuk memutus rantai praktek senioritas dengan cara memberikan sanksi berat bagi siapa pun yang terbukti melakukan intimidasi. Pendidikan karakter harus didesain ulang untuk menanamkan nilai empati, persaudaraan, dan kepemimpinan yang mengayomi, bukan memerintah dengan ancaman. Melibatkan alumni yang memiliki pandangan positif juga bisa menjadi cara efektif untuk mengubah budaya negatif menjadi tradisi yang lebih produktif dan membanggakan tanpa harus melibatkan unsur kekerasan fisik maupun verbal.

Share this Post